Parang pisang atau perang pisang ini dilakukan dengan cara melempari pisang muda yang telah direbus. Jarak perang ini sangat dekat antara kedua pihak, yakni hanya sekitar 6 meter. Meski pelemparan pisang dilakukan tanpa arah, dan bahkan warga yang menyaksikan ikut terkena lemparan pisang, namun tidak terasa sakit, karena pisang rebus sangat lentur apabila mengenai tubuh.
Parang pisang ini menandakan, telah lahir bayi kembar sepasang (laki-laki dan perempuan). Seperti yang terjadi hari ini, sepasang suami-istri, Ison dan Ilin, melahirkan anak kembar sepasang. Perang itu akan terjadi antara pihak keluarga Ison dengan keluarga Ilin.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Marlis, makna dari tradisi parang pisang itu untuk menghindari terjadinya pelanggaran adat dan syarak di kemudian hari oleh anak kembar sepasang tersebut. Mengingat mereka akan tumbuh bersama secara berlainan kelamin.
“Dengan perang ini, maka dimaknai memerangi batin kedua bayi kembar tersebut agar tidak melakukan perkawinan sedarah,” katanya.
Video by HORAS CHANNEL
Dipublikasikan tanggal 11 Jul 2017